Penulis: Mila Karmila
Desain Komunikasi Visual
Fakultas Seni dan Desain
Universitas Negeri Makassar
Email: Milakrml12@gmail.com
Abstrak
Dalam percampuran ini akan membahas tentang gaya desain grafis dalam gaya Victorian terapan. Gaya Victorian berasal dari Inggris yang berkembang di Amerika, Inggris dan sebagian besar benua Eropa sejak tahun 1820-an hingga tahun 1900-an. Adapaun elemen desain gaya Victorian yang khas adalah pembatas (pembatas) dekoratif dan tipografi yang bervariasi.
Kata Kunci: Gaya Victorian, Gaya Desain, Desain Grafis, Tipografi.
Pendahuluan
1. Latar Belakang Penulisan
Era Victoria dalam sejarah Britania Raya adalah pemerintahan Ratu Victoria dari 20 Juni 1837 sampai kematiannya pada 22 Januari 1901. Era ini ditandai oleh periode panjang damai, kemakmuran, kejayaan Britania di kancah internasional, dan meningkatnya rasa percaya diri nasional warga Britania. Dalam bidang kebudayaan, terjadi alih dari rasionalisme pada era George menuju romantisisme dan mistisisme yang membahas dengan agama, nilai sosial, dan seni. (Wikipedia, 2016)
Saat era Victoria dimulai, gambar grafis mencapai publiknya dalam satu dari tiga cara berbeda. Yang pertama adalah gambar orisinal. Yang kedua dilakukan dengan cara autografi seperti etchings
dan litograf yang disebut dari karya cetak yang dibuat oleh seniman itu sendiri. Yang terakhir adalah menggunakan gambar terbalik yang dibuat oleh seorang pengrajin dari gambar asli yang dipasok oleh seorang seniman. (Clive, 1978) .
Dalam dunia desain grafis, segala sesuatu yang berhubungan dengan bahasa Inggris digunakan dengan istilah tipografi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari berbagai bahasa dan bahasa dari teks, jenis, sifat, karakter, dan fungsi. huruf, termasuk penerapannya dalam desain dan lain sebagainya, ditinjau dari segi visual dan estetisnya. (Ahmad, 2006)
Elemen desain khas dari gaya Victorian adalah pengunaan pembatas (border) dekoratif dan tipografi yang rumit dan simetris pada tata letak dan desain. Para perancang warna masa ini menolak standar tipografi Renaissance dengan cara menciptakan poster yang justru merusak keanggunan jenis huruf Bodoni dan Didot dari abad ke-18. Caranya dengan creating menjadi lebih lebar dan hitam. Peniruan ini dinamakan dengan Fat Face dan menjadi ciri khas era Victorian. Kemajuan teknologi juga ikut terlibat dengan gaya Victoria, yaitu dengan adanya cetak warna ( chromolithography ) di Jerman dan Amerika tahun 1870-an. Teknik cukil karyu ( ukiran kayu ) dan jenis huruf dengan serif dan huruf-huruf Gothic menjadi sebuah desain yang khas era ini. (Muhammad, 2017)
Sejak era Victoria hingga sekarang, desain grafis telah menghasilkan berbagai macam kebutuhan di sektor ekonomi dan budaya, oleh karena itu gaya desain grafis berkembang menjadi lebih baik. Selain itu, maraknya perdagangan barang konsumen, yang telah mencapai kematangan konseptual awal. Seni ilustrasi dan tipografi menjadi tulang punggung komunikasi grafis dalam lelang jurnalistik dan iklan.
2. Tujuan Penulisan
Tulisan ini bertujuan menjelaskan gaya desain grafis pada era Victorian. Di samping itu, tulisan ini juga termasuk berbagai desain gaya.
Tulisan ini bertujuan menjelaskan gaya desain grafis pada era Victorian. Di samping itu, tulisan ini juga termasuk berbagai desain gaya.
3. Metode Penulisan
Metode
penulisan yang dilakukan adalah metode studi kepustakaan dengan mencari
referensi-referensi yang berhubungan dengan pembahasan. Referensi diperoleh
dari buku berupa pdf dan internet.
Pembahasan
Gaya Victoria dalam
desain grafis sebetulnya tidak dapat dikatakan sebagai suatu gaya yang muncul
dari suatu konsepsi atau inovasi yang mendasar. Gaya ini terjadi begitu saja
sebagai akibat pesatnya perkembangan dalam komunikasi grafis dan media cetak
ketika terjadi puncak industri dan perdagangan di Inggris pada masa revolusi
industri di abad ke-18. Secara teknis, gaya ini muncul karena teknologi baru,
tetapi secara konsep visual, gaya ini masih turunan (derivative) abad
pertengahan. (Wagiono, 2013)
Karena
kemajuan transportasi dan teknologi cetak secara merata di Eropa dan Amerika
muncul majalah-majalah dan poster-poster komersial yang dirancang dengan
memakai pola dan tata letak dan teknik visualisasi mengikuti tradisi buku-buku
dan seni grafis abad pertengahan. (Wagiono, 2013)
Menurut
(Wagiono, 2013) , di dalam hasil karya desain grafis victoria
kita melihat suatu turunan langsung seni Abad Pertengahan, misalnya :
·
Seni cetak wood engraving atau etching
· Seni-seni piktorial yang masih
‘representasional’ atau mencoba merekam keadaan dan benda secara realistik
(mendekati kenyataan) dengan engraing,
etching dan litografi
·
Seni hias dan hias pinggir
·
Seni kaligrafi dan tipografi
·
Seni karikatur dan satir
Ciri-ciri utama desain grafis victoria dalam buku (Wagiono, 2013) adalah :
- Visualisasi realistik baik pada desain berwarna maupun hitam putih.
- Penuturan visual yang ‘didaktik’ dan ‘naratif’, yaitu berusaha menjelaskan dengan selengkap-lengkapnya dan sebanyak-banyaknya.
- Banyaknya ilustrasi karikatur dan satir, baik dalam majalah politik maupun dalam iklan komersil pada poster-poster. Humor dan satir dianggap ‘selling point’ yang kuat bagi produk-produk tertentu.
- Visualiasasi dan pemakaian tipografi serta border atau hiasan pinggir secara penuh, tanpa meninggalkan bidang kosong. Ada anggapan bahwa setiap bidang harus dikuasai dengan cara diisi berbagai unsur grafis.
- Pencampuran berbagai jenis huruf, secara langsung dan berdesak. Tak ada kepekaan tentang spasi dan ruang pada tipografi.
- Seni ornamen yang dipakai secara berlebihan.
- Komposisi yang cenderung merata dan simetris (statis).
Sebagai
sebuah jenis desain grafis, poster masuk dalam kategori presentasi dan promosi,
di mana gambar dan kata perlu dibuat sehemat mungkin, dihubungkan ke dalam satu
pesan tunggal, dan mudah diingat. Di jalanan kota-kota yang sedang berkembang
di penghujung abad ke-19, poster merupakan ekspresi dari kehidupan ekonomi,
sosial dan kebudayaan, bersaing untuk menarik perhatian para pembeli barang dan
pemirsa hiburan. Perhatian dari orang yang melintas dapat diraih melalui warna
poster, yang dimungkinkan dengan perkembangan pencetakan litograf. Ilustrasi
dari poster-poster tersebut diberikan konteks yang tepat melalui teks,
mencerminkan kebiasaan artistik pada masanya, dan memperkenalkan keindahan baru
yang disederhanakan, gambar sederhana yang didapatkan dengan bantuan reproduksi
grafika. (Wagiono, 2013)
Stephen
Heller dan Seymour Chwast dalam bukunya Graphic Style membagi gaya desain ke
dalam sebelas era berbeda yaitu victorian, Art dan Craft, Art Nouveau, Early
modern, Expressionism, Modern, Art Deco, Dada, Heroic realism, Late Modern,
Post Modern. Secara sederhana kesebelas era ini dapat dibagi ke dalam tiga gaya
desain yaitu sebelum modern, gaya desain modern, dan gaya desain postmodern.
Penanda paling mudah dalam mengenali gaya desain tersebut adalah melalui visualisasi
font atau huruf, visualisasi ilustrasi dan elemen desain lain dalam kaitannya
dengan penerapan prinsip desain. (Maria Nala Damayanti, 2009) .
Dalam
penelitian (Natalia, 2007) , adapun beberapa perjalanan sejarah
gaya desain, huruf, tipografi menuju era postmodern
adalah sebagai berikut :
1.
Early Modern (Victorian 1820-1900)
Gambar
1. Richard Doyle. Punch cover magazine
Sumber
: (Natalia, 2007)
2.
Art and Craft Movement – Art Nouveau –
Art Deco
a.
Art and Craft Movement
Art and Craft Movement
memberikan kesan kembali ke periode gothic,
roccoco, dan renaisans. Salah
satu ciri utamanya adalah karya seni dibuat secara individu oleh seniman dengan
sentuhan artistik yang khas. Ciri visualnya adalah bentuk, warna, dan ornamen
latar sederhana, menampilkan motif alam dan simbol penuh makna, tipografi sans
serif dan menolak huruf klasik Roman. Contohnya :
Gambar
2. Arts dan Crafts. Magazine cover
Sumber
: (Natalia, 2007)
b.
Art Nouveau
Art Nouveau
merupakan pembelot dari keseluruhan gaya victorian, yang pada saat itu menjadi
gaya terpopuler. Ciri visual desain lainnya yaitu tipografi berbentuk unik dan
dekoratif yang kadang-kadang sukar dibaca, menampilkan huruf-huruf ciptaan dan
sentuhan pribadi, hiasan berbentuk oval, lingkaran, dan lengkungan, menampilkan
garis roccoco simbolis, warna
cemerlang, feminim dan sensual. Contohnya :
Gambar
3. Art Nouveau, book cover design
Sumber
: (Natalia, 2007)
c.
Art Deco
Art Deco
tidak dianggap sebagai aliran, namun hanya gaya atau kecenderungan dalam
desain. Gaya ini mengikuti Art Nouveau,
perbedaannya yang mencolok adalah lengkungan-lengkungan yang mengalir pada
desain Art Nouveau ditinggalkan dan
diganti dengan garis-garis lurus dan sudut-sudut yang tajam. Jika kaum modernis
cenderung pada fungsionalisme dan formalisme, maka Art Deco tampil mewah dan selera kelas atas. Art Deco banyak menggunakan bahan-bahan mahal dan sedikit ornamen
hias. Ornamen yang digunakan lebih beraturan dan menggunakan garis-garis lurus
atau persegi (rectilinear). Art Deco
adalah kecenderungan murni gaya tanpa ideologi apapun. Contohnya :
Gambar
4. Art Deco. (Graphic Style)
Sumber
: (Natalia, 2007)
3.
Modernisme (New Typography)
Modern design
di awal abad ke-20 hampir serupa dengan Seni Murni pada jaman itu, yaitu
merupakan reaksi atas dekadensi dari tipografi dan design di akhir abad ke-19.
Ciri-ciri visual desainnya antara lain dipengaruhi oleh Futurism dan Dada,
geometris dan menolak semua ornamen, memperhatikan white space, mengizinkan barisan huruf disusun secara miring atau vertikal,
huruf yang digunakan sans serif, pembatasan pada warna dasar. Contohnya :
Gambar
5. Fortunato Depero. Depero Futurista.
For an exibition cataloque. (Graphic
Style)
Sumber
: (Natalia, 2007)
4.
Pemberontakan Dada
Dada
atau Dadaism adalah sebuah gerakan
kebudayaan yang berasal dari wilayah netral. Dada menolak semua bentuk seni borjuis,
termasuk paham Expressionism, yang
pernah dianggap biasa saja oleh golongan menengah. Adapun ciri visual desain Dada antara lain adalah mengkombinasikan
kolase Cubism, tipografi Futurism dan Constructivism, kekontrasan antara halaman dan kata-kata yang dicap
kurang sopan (tabu), mencampur segala jenis huruf dan ornamen cetak pada
susunan tipografinya. Contohnya :
Gambar
6. Max Ernst/J.Baargeld. Dada siegt.
Poster, 1920 (Graphic Style)
Sumber
: (Natalia, 2007)
5.
Bauhaus menuju Internasional School
Bauhaus dibubarkan
oleh Hitler karena terlalu universal dan kurang nasionalis serta dituduh
komunis Bolshevik. Gaya tipografi Internasional
School ini sering dikaitkan dengan Constructivism,
De Stijl, Bauhaus, dan New Typography.
Ciri gaya desain ini adalah letak yang asimetris, sistem grid yang berdasarkan
psikologi persepsi, harmonisasi penyusunan huruf, jenis huruf yang digunakan
sans serif, kolom teks yang sempit untuk melegakan mata, mengurangi
ornamen/dekorasi, mengutamakan foto bukan gambar sebagai konsep lebih faktual.
Contohnya :
Gambar
7. Bauhaus Poster
Sumber
: (Natalia, 2007)
6.
Postmodern
Postmodern
menampilkan bentuk-bentuk klasik yang dikemas di dalam bentuk tradisional
muktahir. Estetika desain postmodern
telah lama dipakai bahkan sebelum namanya dikenal. Postmodern merupakan kelanjutan dari modernism, menolak gaya hidup mapan generasi tua, dimana ciri
desainnya adalah geometri bergerak yang tampak main-main, menampilkan
bentuk-bentuk yang mengapung, mempunyai banyak lapisan dan gambar yang tidak
lengkap, titik dan garis ditempatkan tidak beraturan, tipografi dengan spasi
antar huruf (letterspace) yang
bertentangan, keselarasan warna-warna yang meriah, serta selalu berhubungan
dengan sejarah seni dan desain. Contohnya :
Gambar
8. Art Book. Postmodern
Sumber
: (Natalia, 2007)
Aspek
yang paling mencuat dalam modernisasi adalah pergantian teknik produksi
tradisional ke cara-cara modern. Pada masa revolusi industri di Inggris
misalnya ditemukan media cetak yang memungkinkan lahirnya beragam jenis huruf
dan menggandakannya sebagai barang cetakan dalam waktu singkat. Kondisi ini
melahirkan gaya desain victorian yang berciri khas penggunaan banyak huruf (type font) dalam selembar media cetak
seperti poster dan barang cetak lainnya. Ilustrasi yang tampak pada era ini
bergaya realis dan banyak menerapkan ilustrasi sederhana seperti garis melengkung
atau seperti sulur-sulur. Berikut
merupakan karya visual yang menerapkan gaya Victorian
Gambar
9. Visualisasi Karya menggunakan Victorian Style
Gambar di atas
dikatakan menerapkan gaya Victorian dikarenakan beberapa hal berikut :
1. Ilustrasi
Gambar
10. Frame Victorian Style
Sumber
: kisspng.com
Ilustrasi
bisa diartikan sebagai gambar. (Maria Nala Damayanti, 2009) . Pada gambar di atas
terdapat ilustrasi dekoratif, yaitu ilustrasi yang berfungsi menghias.
Ilustrasi sulur daun dekoratif di sisi bidang sebagai sisi keanggunan merupakan
salah satu ciri khas Victorian style.
2. Warna
Gambar
11. Pemilihan warna yang dipakai
Warna merupakan fenomena yang terjadi karena adanya tiga
unsur yaitu cahaya, objek, dan observer. Secara definisi, warna berarti satuan
radiasi elektromagnetik yang memancarkan panjang gelombang berbeda pada mata
kita sehingga mata kita melihat perbedaan panjang gelombang tersebut. Perbedaan
itulah yang disebut warna. (Maria Nala Damayanti, 2009) . Secara psikologis,
masing-masing warna memiliki makna. Warna pada gambar tersebut bernuansa warna
coklat dan hitam. Warna coklat memberi kesan alami seperti kayu, sederhana dan
rasa nyaman tetapi juga memberikan kesan gagah dan maskulin. Sedangkan warna
hitam merupakan warna yang kuat dan netral namun elegan.
3. Tipografi
Gambar
12. Jenis font yang digunakan
Tipografi
adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang huruf dan penataannya.
Huruf yang diterapkan dengan menggunakan prinsip tipografi serta menerapkan
prinsip desain, akan memberikan kesan tertentu yang disebut gaya desain. Adapun
prinsip tipografi yang harus dipenuhi adalah terpenuhinya unsur kualitas bentuk
huruf yang baik (legibility), unsur
keterbacaan (readability), unsur
kemampuan dibaca dan dimengerti (clarity)
yang erat kaitannya dengan teknologi cetak yang dipakai. (Maria Nala Damayanti, 2009) . Penggunaan tipografi pada tulisan “I
am the current curator of the stories it holds within” yang merupakan
quotes Hope Barrett
pada era Victorian menggunakan font Bodoni,
Victorian Initials One, Victorian Parlor Vintage, dan VictorianText.
Kesimpulan
Penerapan
Victorian Style dalam gaya desain grafis tak lepas dari ilustrasi dekoratif
berupa sulur-sulur yang memberi kesan anggun pada sisi bidang suatu karya
desain. Di sisi lain, penggunaan font pada era Victorian selalu menggunakan
font jenis serif yang memberi kesan klasik dan mewah. Sadar atau tidak, hal ini
sering kita jumpai pada kehidupan sehari-hari. Dapat kita lihat melalui desain
poster film klasik yang menggunakan font serif, maupun desain undangan
pernikahan yang dihias menggunakan ilustrasi dekoratif berupa sulur-sulur yang
membingkai sisi bidang undangan.
Referensi
Ahmad, M. (2006). Media
Komunikasi Visual Sebagai Penunjang Promosi Nasyid Zukhruf. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret.
Clive, A. (1978, September). Graphic Imagery 1837-1901 : A
Victorian Revolution.
Maria Nala Damayanti, B. S. (2009). Gaya Desain pada
Visualisasi Undangan Pernikahan di Surabaya. Jurnal Desain Komunikasi
Visual Nirmana , 21.
Muhammad, M. (2017). Mengenal Macam-Macam Aliran Style
Desain Grafis.
Natalia, K. I. (2007). Kajian Huruf dan Tipografi pada
Majalah Indie. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Wagiono, S. (2013). Gaya Desain Tinjauan Sejarah.
Jakarta: Pascasarjana IKJ.
Wikipedia. (2016). Era victoria.
Mengesankan sekali
BalasHapus